(Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21)

“Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang.

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui” (Yoh 6:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Tumbuh berkembang dalam hidup beriman, untuk menjadi pribadi cerdas beriman memang tak akan terlepas dari aneka tantangan dan hambatan, apalagi di zaman/massa yang masih sarat dengan aneka macam bentuk kemesorotan moral saat ini seperti korupsi yang semakin merajalela di era Reformasi dan Desentralisasi masa kini. Gerakan desentralisasi yang dimaksudkan untuk pemberdayaan rakyat serta pengembangan demokrasi menjadi penyebaran atau pemerataan korupsi. Maka untuk hidup baik, setia pada iman bagaikan mengarungi ‘laut yang sedang bergelora karena angin kencang’, orang yang kurang beriman menjadi ketakutan dan gentar, terombang-ambing, sebagaimana dialami orang para rasul yang sedang perjalanan dalam perahu menyeberang ke Kapernaum. “Aku ini, jangan takut!”, demikian sabda Yesus, yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka yang sedang ketakutan. Di tengah gelombang kehidupan yang mengombang-ambingkan kita hadir juga Yesus yang telah bangkit
dari mati, maka marilah kita jumpai Dia. Percayalah bahwa di tengah-tengah zaman yang sarat korupsi ini masih cukup banyak yang jujur dan baik, marilah kita buka telinga dan mata hati, jiwa dan tubuh kita untuk melihat dan mendengarkan orang-orang baik dan jujur. Marilah kita yang merasa diri baik dan jujur bersama-sama, bergotong royong mengarungi gelombang korupsi: kita lindas dan berantas para koruptor di negeri ini. Kita hadapi gelombang korupsi dengan tenang serta tetap teguh dalam iman dan kebenaran agar cita-cita “Kesejahteraan rakyat dan Keadilan sosial” segera menjadi nyata, semua orang hidup damai sejahtera, cerdas beriman, aman dan tenteram.
· “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”(Kis 6:2-4), demikian kata para rasul dihadapan para pendengar mereka. Para rasul sibuk dalam pelayanan ‘doa dan firman Tuhan’, sehingga mereka yang miskin, tersingkir, berkekurangan serta para janda kurang memperoleh perhatian; dibutuhkan orang-orang yang dikenal baik untuk memperhatikan mereka yang terlupakan ini. Dalam kehidupan bersama kita kiranya mereka yang miskin, tersingkir dan berkekurangan masih cukup banyak. Di dalam Gereja ada pelayanan sosial, yang dikoordinir oleh komisi atau seksi sosial, namun kiranya gerakan yang diselenggarakan komisi atau seksi sosial untuk memperhatikan mereka yang miskin, tersingkir dan
berkekurangan belum memadai. Maka kita semua yang percaya kepada Yesus yang bangkit dipanggil untuk berpartisipasi dalam gerakan-gerakan sosial. Pada masa kini di negeri kita masih terjadi kelaparan atau kekurangan gizi yang menyebabkan kematian atau bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan gempa bumi yang menimbulkan korban-korban. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati, begitulah kata Yakobus dalam suratnya. Jika kita mengaku diri beriman marilah kita melangkah bertindak sosial, memperhatikan saudara-saudari kita yang miskin, tersingkir dan berkekurangan, entah dengan mendatangi mereka atau membantu mereka dengan harta benda atau uang sesuai dengan kebutuhan mereka yang mendesak. Selain tindakan-tindakan sosial konkret yang harus kita laksanakan, kiranya perlu kita perhatikan juga anak-anak kita atau generasi muda untuk dibina dan dididik dalam hal kepekaan sosial, solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Gerakan-gerakan ‘live
in’, tinggal dan bekerja untuk sementara waktu di desa-desa miskin, sebagaimana diselenggarakan oleh beberapa sekolah di kota-kota besar, kiranya merupakan salah satu bentuk pembinaan kepekaan sosial. Sebaliknya bagi anak-anak atau generasi muda dari desa-desa miskin yang pada umumnya lingkungan telah membekali kepekaan sosial ini hendaknya jangan menjadi pudar karena derap langkah perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung membuat orang menjadi egois.

“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:18-19).

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 5 April 2008