(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)

“Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang
banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada
Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat
makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri
tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti
seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun
masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-
murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-
Nya:”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan
dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata
Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak
rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki
banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan
membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga
dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan
setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-
Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada
yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua
belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai
yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat
mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah
benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.”(Yoh 6:5-14),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-
catatan sederhana sebagai berikut:
• Jika anda memasuki kapel Kolese Kanisius, Jl.Menteng Raya
64, Jakarta Pusat, warta gemibira/Injil hari ini divisualisasikan
dengan 3(tiga) gambar/lukisan yang menghiasi kaca jendela di atas
tabernakel: Yesus di tengah-tengah memegang roti dan diapit oleh
Petrus serta seorang anak yang membawa roti dan ikan di tangannya.
Banyak orang berbondong-bondong mengikuti dan mendengarkan
pengajaran Yesus sampai mereka lupa makan dan kelaparan. Apa yang
kemudian dilakukanNya semakin membuat banyak orang tersebut percaya
kepadaNya. Ia menggandakan `lima roti jelai dan dua ikan’ yang
dibawa oleh seorang anak, sehingga mereka dapat makan kenyang,
bahkan masih tersisa banyak sekali. Yang sedikit dipersembahkan
semuanya kepada Tuhan akhirnya menjadi berkat melimpah bagi banyak
orang, itulah mujizat yang terjadi. Maka baiklah kita, sebagai orang
yang beriman, yang percaya kepada Yesus Kristus, marilah meneladan
anak tersebut. Berapa pun dan apapun yang kita miliki marilah tidak
hanya dinikmati diri sendiri, melainkan kita persembahkan kepada
Tuhan, kita bagikan kepada sesama dan saudara-saudari kita yang
lebih miskin dan berkekurangan atau sama sekali tidak memiliki apa-
apa. Mungkin bukan `roti atau ikan’ atau makanan yang kita bagikan
kepada orang lain, melainkan kemampuan, keterampilan atau
pengetahuan. Percaya dan imanilah bahwa kemampuan, keterampilan dan
pengetahuan semakin diberikan kepada banyak orang tidak akan
berkurang, tetapi justru semakin bertambah dan berlipat ganda: kita
semakin diperkaya dan orang lain juga semakin punya dan mungkin juga
menjadi kaya.
• “Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah
mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia,
tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan
dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti,
bahwa kamu melawan Allah.” (Kis 5:38-39), demikian kata Gamaliel
kepada teman-temannya, orang-orang Farisi di Mahkamah Agama., dalam
rangka menyikapi apa yang dilakukan oleh para rasul. “Kebebasan yang
bertanggungjawab” itulah pedoman hidup yang senada dengan apa yang
dikatakan oleh Gamaliel. Kita tidak dapat menuntut tanggungjawab
seseorang jika kita tidak memberi kebebasan kepadanya. Pedoman ini
rasanya perlu menjadi perhatian atau opsi bagi para orangtua dalam
rangka mendidik anak-anaknya, para guru dalam mendampingi para
peserta didiknya, pejabat/petinggi masyarakat atau bangsa kepada
rakyatnya, dst.. “Kebebasan dan cintakasih Injili” itulah cirikhas
pendidikan, pembinaan atau pendampingan yang baik. Maka dengan ini
kami berharap dan menghimbau kepada para orangtua, guru atau
pejabat/pemimpin untuk tidak takut-takut memberi kebebasan kepada
anak-anak, peserta didik atau rakyatnya. Secara periodik anak-anak,
peserta didik atau rakyat diajak berrefleksi atau evaluasi diri,
untuk mengetahui mana yang baik atau buruk dan kemudian memperdalam
dan melanjutkan apa yang baik serta meninggalkan apa yang buruk.
Melengkapi pedoman di atas baiklah kita ingat juga motto “trial and
error”, dalam perjalanan hidup maupun penghayatan panggilan dan
pelaksanaan tugas perutusan.

” Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri
orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan
teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
(Mzm 27:13-14)

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 4 April 2008