(Markus 14: 32-42)
Pergumulan TUHAN YESUS di Taman Getsemani merupakan pergumulan yang menakutkan dalam penderitaan yang mendalam. Apa saja yang digumulkanNYA?? Bukankah YESUS memiliki kehendak yang sama dengan kehendak BAPA-NYA? Bukankah YESUS berkata: MakananKU ialah melakukan kehendak ALLAH, kehendakKU adalah kehendak ALLAH, sukacitaKU adalah melakukan kehendak BAPA-KU?
Hmm tentu saja penyerahanNYA kepada kehendak ALLAH sudah teguh dan mantap. Namun emosiNYA menggoncangkan diriNYA dan memperbesar pergumulanNYA. Hmm….TUHAN YESUS menerima dan merasakan pergumulan emosionalNYA…….
Penyerahan diri merupakan krisis yang sudah pasti dan proses yang tidak pernah berakhir. Saat berbicara mengenai penyerahan diri, kita sedang berbicara mengenai komitmen dari kehendak kita kepada kehendak KRISTUS. Kita mungkin membuat komitmen dan berkata: “Bukan kehendakku, tetapi biarlah kehendakMU yang jadi” dan bertekad untuk melakukannya. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu sepanjang hidup.
Salah satu kesalahan dari pemahaman tentang kekudusan adalah meminta diri kita melakukan sesuatu yang secara psikologis dan emosional tidak mungkin, yaitu beralih terlalu cepat dari pertobatan menuju penyerahan diri. Tampaknya ALLAH harus membawa kita kepada serangkaian langkah sampai kita benar-benar hilang harapan. Hanya ALLAH yang dapat membuat kita melakukannya. Tidak ada Hamba TUHAN, tidak ada manipulasi emosi yang dapat melakukan hal ini.
Kita akan menjalani kehidupan yang lebih bijak, lebih indah jikalau kita dengan jujur mengakui pada diri kita sendiri dan kepada ALLAH bahwa kita seperti YESUS, mengalami pergumulan antara emosi dan kehendak kita.
Hmm jangan memberikan pemahaman yang keliru kepada adek-adek rohani kita tentang penyerahan diri, dengan melakukan itu kita membawa mereka kepada kepalsuan rohani.
Ada orang-orang yang benar-benar telah dirusak sedemikian rupa sehingga mereka membutuhkan kesembuhan sebelum ada penyerahan diri yang sesungguhnya. Tidak setiap orang menerima berita penyerahan diri pada waktu yang sama. Kita perlu menyerahkan orang-orang itu dalam tangan ROH yang mempersiapkan mereka untuk mengahadapi krisis yang paling utama.
Hmm sebagai kakak KTB ato orangtua rohani,
kita harus mampu menyeimbangkan fungsi nabi dan gembala. Berperan sebagai nabi, kita menyatakan kebenaran, menguraikan doktrin-doktrin iman yang penting, menegakkan standart-standart Alkitabiah untuk kehidupan, berbicara tentang dosa, kebenaran dan penghakiman, memanggil orang-orang pada pertobatan, keselamatan dan pengudusan. Berperan sebagai gembala, kita menawarkan makanan Firman yang membangun dan memberikan dorongan, memberikan penghiburan kepada yang sedih dan pengharapan kepada yang putus asa, membangkitkan yang jatuh, menghibur yang takut dan menyembuhkan yang sakit.
TUHAN YESUS menggabungkan keduanya dengan cara yang paling sempurna “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).
Kadangkala orang tua rohani lebih mematahkan semangat anak-anak rohaninya dan menghalangi mereka untuk mencari pertolongan dan penyembuhan yang benar-benar dibutuhkan.
….salah satu peristiwa yang paling menimbulkan kemarahan dalam pelayanan konseling saya ialah ketika saya mendengar isakan seorang wanita muda yang menyingkapkan kisahnya. Judy dalam penderitan yang dalam ia membagikan kepada seorang penginjil: bagaimana ayahnya yang pendeta telah berulangkali memerkosanya, ia mengakui perasaannya yang kacau balau, yang terus menerus membuatnya tertekan dan dikalahkan secara rohani. Jawaban yang segera diberikan oleh penginjil itu adalah jika ia mau bertobat maka ALLAH akan “membereskan” perasaan-perasaannya. Penginjil itu begitu penuh dengan jawaban-jawaban sehingga tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaannya atau mendengar kisahnya secara lengkap….(Seamans: 1997)
…..seorang wanita muda yang menjumpai saya untuk konseling sedang mengalami patah hati, dengan linangan air mata, depresi dan hancur. Beberapa teman Kristennya yang “rohani” meyakinkannya bahwa pasti ada sesuatu yang salah dalam dirinya sampai memilki pergumulan seperti itu. Bukannya membantu, teman-teman Kristenya yang “rohani” semakin menambah berat beban rasa bersalah rohaninya kepada hatinya yang sudah berbeban terlalu berat…(Seamands: 2000)
Hmm seringkali orangtua rohani menganalisis semua itu dalam pikiran mereka, menyadarkan masalah-masalah yang membutuhkan jalan keluar dan memecahkan jalan keluarnya. Namun setelah semuanya berakhir, tidak ada sesuatupun yang benar-benar berubah. Semua itu seperti jenis permainan intelektual dan rohani yang mengagumkan. Segala sesuatu terjadi dalam pikiran.
Hal itu benar-benar menyebabkan anak-anak rohaninya bertambah takut dan memperkuat pertahanan mereka sehingga memori-memori ini dicampakkan lebih jauh ke bawah permukaan. Pengalaman apapun yang tidak dapat diatasi dengan pergumulan emosi pada masa sekarang, harus dibayar berlipat ganda di kemudian hari………..
Hmm TUHAN YESUS, menghargai sisi manusiawiNYA, Tuhan Yesus mengalami dan mengekspresikan emosi-emosiNYA. IA menghargai kesehatan jiwa manusia. IA adalah satu-satunya manusia sempurna yang pernah hidup.
Apakah kita akan berpikir bahwa pertobatan TUHAN YESUS perlu dipertanyakan??? Jangan memberikan pemahaman yang keliru ttg pertobatan dan penyerahan diri!!!
Hmm menjelaskan tidak sama dengan mengakui. ….
Hal yang paling baik untuk dilakukan adalah meminta mereka mengakui dan mengijinkan hatinya merasakannya, menyerahkan perasaan kepada ALLAH dalam kejujuran dan menceritakan kepadaNYA perasaan mereka yang sebenarnya. Memberikan penghiburan kepada yang sedih dan pengharapan kepada yang putus asa, membangkitkan yang jatuh, menghibur yang takut dan menyembuhkan yang sakit. Kemudian menegaskan kembali penyerahan sepenuhnya yang telah mereka komitmenkan dan meminta pertolongan ALLAH untuk melakukannya…….
TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.
Kadangkala orang tua rohani mendidik dengan penghinaan, rasa bersalah dan rasa malu untuk memanipulasi “perubahan-perubahan” rohani anak-anaknya………
Hmm TUHAN YESUS memuridkan kedua belas muridNYA dalam waktu sekitar 3 tahun. Pemuridan yang dikerjakanNYA bukan satu minggu sekali ketemu, tetapi mereka hidup bersamaNYA setiap hari. Hmm tapi apa yang terjadi??? Petrus menyangkalNYA tiga kali, bahkan saat DIA bangkit malahan Petrus kembali menjadi penjala ikan…
Hmm apakah TUHAN YESUS berkata: Hmm Petrus, percuma klo Cuma punya keinginan untuk berubah tetapi gak dilakukan????? Hmm TUHAN YESUS menampakkan diriNYA pada Petrus. TUHAN YESUS menangani penyangkalan Petrus dan pemulihannya. Tiga kali Petrus menyangkal TUHAN YESUS, tiga kali ia ditanya untuk meneguhkan kasihnya kepadaNYA. TUHAN YESUS menyembuhkan rasa sakit dan malu Petrus. Ketika Petrus menghadapi rasa sakit itu dalam segala kekhususannya, memori-memorinya disembuhkan dan ia dipulihkan dan dikembalikan lagi pada tugas pelayanan.
Apakah kita akan berpikir bahwa TUHAN YESUS perlu dipertanyakan??? Jangan memberikan pemahaman yang keliru ttg pertobatan dan penyerahan diri!!!
TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.
Hmm seringkali orangtua rohani berpikir jika doktrin atau gagasan yang diajarkan secara Alkitabiah itu benar, maka secara otomatis akan menjelaskan kepada anak-anak rohaninya konsep mengenai ALLAH dan membuat anak-anak rohaninya untuk percaya dan bergantung kepada ALLAH. ……
….dapatkah seorang yang tidak pernah mengalami kasih yang tulus, tetapi hanya kebencian, penolakan dan bahkan kekejaman sebagai seorang anak, benar-benar percaya bahwa ALLAH mengasihinya?? Dapatkah seorang anak laki-laki yang tidak pernah mendapatkan apa-apa dari ibunya yang tidak dapat disenangkan selain kritikan, celaan, teguran dan penghinaan benar-benar percaya bahwa hidupnya berkenan pada ALLAH?? Jenis pertanyaan teologis bagaimana yang akan kita berikan pada seorang anak perempuan yang berkata mengenai “saya tidak pernah tahu apakah saya akan dipeluk atau dipukul, saya tidak pernah tahu bedanya” atau seorang yag bercerita sambil terisak-isak, “saya hanya menutup wajah saya dengan bantal dan menangis ketika ayah ingin berhubungan sex dengan saya???….. (Seamands: 1997)
Seringkali orang tua rohani memberitahu pada anak-anak yang terluka seperti itu bahwa satu-satunya yang salah dengan mereka adalah pikiran mereka atau bahkan mengatakan mereka harus berhenti hidup dalam daging.
Semua yang dilakukan hanya akan memperbesar rasa bersalah dan memperdalam keputusasaan mereka karena faktanya: apa yang didengar, digambarkan dan dirasakan oleh pendengar masih harus disaring. ROH KUDUS sendiri tidak menghindari kepribadian dengan mana seseorang menangkap sesuatu ( Anak-anak belajar dari hal yang kongkrit sampai pada yang abstrak, dari pengalaman yang sesungguhnya dengan hal-hal dan dengan orang-orang sampai pada pikiran dan konsep mengenai mereka. Mereka hanya lambat laun berpikir dalam ide-ide abstrak sementara mereka bertumbuh menjadi dewasa. Jadi konsep-konsep seperti kasih, penerimaan, iman dan keadilan didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang sebenarnya, terutama mereka yang paling berarti baginya. Gabungan konsep dan perasaan yang didasarkan pada hubungan merupakan fondasi bagi pengalaman dasar terhadap belaskasihan, pengampunan ALLAH dan kesaksian ROH KUDUS.)
Dan apabila penerima yang menangkap semua ini benar-benar telah rusak, maka kebenaran Alkitab juga akan menyimpang sehingga menghasilkan gambar yang rusak ttg ALLAH. Konsep yang menyimpang atau perasaan yang salah mengenai ALLAH akan membawa kepada berbagai macam masalah rohani. Anak-anak seperti ini membutuhkan kesembuhan batin yang dalam sebelum akhirnya anak-anak itu mampu membentuk kembali doktrin-doktrin mereka yang keliru dan mengerti dengan benar ayat-ayat dalam Alkitab.
Sebagai orangtua rohani jauh lebih baik untuk menolong mereka mengerti dan menemukan kesembuhan dari sumber yang sebenarnya dari dilema mereka daripada menekannya dengan menguraikan doktrin-doktrin iman yang penting, menegakkan standart-standart Alkitabiah untuk kehidupan, berbicara tentang dosa, kebenaran dan penghakiman, memanggil orang-orang pada pertobatan, keselamatan dan pengudusan.
TUHAN YESUS menyembuhkan seorang anak yang terbuka dan tulus yang berkata sambil mengangis “TUHAN, aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini (Markus 9: 24)
Kita sebagai orangtua rohani dapat berperan sebagai asisten sementara ROH KUDUS. Asisten, karena sasaran dari semua konseling adalah untuk menolong orang-orang menjadi cukup dewasa secara emosional dan rohani untuk berhubungan dengan ROH KUDUS, Konselor Agung. Sementara artinya ketergantungan kepada kita seharusnya tidak bersifat permanent, jika demikian maka konseling bukan lagi menjadi pemecah masalah tetapi menjadi bagian dari masalah.
Sepanjang sejarah, ALLAH telah menggunakan manusia sebagai asisten, tidak hanya untuk melaksanakan pekerjaanNYA, tetapi juga untuk “berdiri di tengah” sebagai pengantaraNYA yang menunjukkan kepada orang-orang, seperti apa karakter DIA yang sesungguhnya.
Bagi anak rohani yang rusak, ini adalah pertama kali dalam hidupnya mereka mengalami hubungan yang stabil, saling mempercayai dan benar-benar penuh kasih (menerima namun berhadapan muka). Jadi keberadaan kita merupakan awal dari kesembuhan. Hmm saat kita mendengarkan mereka harus selalu disertai dengan doa. Sementara kita mendengarkan apa yang dikomunikasikan kepada kita, pada tingkat yang lebih dalam kita harus menggunakan kepekaan rohani dengan terus berdoa dalam hati. Hmm ketika berhadapan dgn masalah-masalah dosa sex, pastikan bahwa kita telah menemukan masalah sesungguhnya yang perlu dihadapi dan disembuhkan. Begitu sering dosa sex terjalin erat dgn kepedihan hati dari daerah yang berbeda. Tidak akan terjadi kesembuhan sebelum memori ini ditemukan dan ditangani sebagaimana semestinya. kita perlu peka terhadap ketajaman ROH untuk menemukannnya.
Setelah dengan pertimbangan yang hati-hati dan sudah didoakan sungguh-sungguh, jangan takut untuk menaati pimpinanNYA. Bagian paling penting dalam penyembuhan memori adalah saat berdoa. Terburu-buru memasuki waktu doa tanpa benar-benar mengerti kebutuhan yang harus ditangani tidak akan membawa kepada kesembuhan yang sesungguhnya. Mempersiapkan waktu doa akan menolong membawa pada alam bawah sadar, baik gambaran maupun perasaan yang menyakitkan harus didorong keluar dari ingatan, untuk dilihat, didengar, dirasakan dan dimengerti untuk dibawa ke hadapan ALLAH untuk disembuhkan. Alkitab memiliki resep untuk pemulihan dan kesembuhan: kejujuran, keterbukaan, pertobatan dan pengakuan (I Yohanes 1: 5-10). Anak-anak yang terluka itu tidak dapat mengaku kepada ALLAH, apa yang mereka sendiri sendiri tidak akui.
Hmm meledaknya jumlah perceraian, pertambahan yang mengkhawatirkan dalam penyiksaan anak dan pasangan hidup, pelecehan sexual, kecanduan yang semakin meningkat terhadap minuman keras dan obat bius, hancurnya standart-stadart moral menghasilkan anak-anak yang terganggu dengan emosi-emosi yang rusak. Dan banyak dari emosi yang rusak ini telah dikubur dalam-dalam pada lapisan memori yang tidak akan memberikan respon terhadap kotbah-kotbah yang jauh, kotbah yang dilindungi oleh mimbar berlapis baja.
Hmm kita harus bersedia “mengotorkan” tangan kita untuk berhubungan dengan sengatan noda dari memori-memori yang kotor. Anak-anak yang terluka ini membutuhkan orang tua rohani yang memperhatikan dan dapat dipercaya yang dapat memimpinnya memasuki hadirat ALLAH. Injil seharusnya benar-benar menjadi kabar baik, berita yang luarbiasa mengenai persahabatan yang penuh pengertian dan persahabatan dari ALLAH. Anak-anak yang terluka ini layak mendapatkan penanganan yang paling lembut dan empatik BUKAN selalu berusaha mengubahnya menjadi yang seharusnya melalui tuntutan-tuntutan ayat-ayat Alkitab yang semakin menghakimi dan membebaninya, BUKAN dengan selalu memberikan jawaban-jawaban tanpa mendengar kebingungan dan kisah-kisahnya. TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.
Waktu saja tidak dapat menyembuhkan memori-memori yang begitu menekan dalam kehidupan seseorang, terutama pengalaman-pengalaman yang terjadi permulaan masa kecil dan remaja. Banyak orang hidup dengan ketegangan yang tidak terpecahkan disebabkan oleh memori yang menyakitkan selama bertahun-tahun, mana kala selama itu beban terus bertambah berat. Jika orang seperti ini sampai pada akhir dari daya tahannya dan mendapati energinya sudah habis maka ia akan menderita krisis emosional. Jika selanjutnya ia dilemahkan dengan keletihan secara fisik, goncangan traumatis dan kemudian jika beberapa pengalaman yang dialaminya berhubungan dengan kejadian masa lalu yang menyakitkan, maka memori yang tersembunyi, yang telah diusahakan begitu lama untuk dikubur, akan bangkit dan menjadi giat kembali.
Memori yang menyakitkan ini tidak dapat secara otomatis diperbaharui melalui pertobatan dan pertumbuhan kasih karunia. Sesungguhnya memori ini sering menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan kerohanian dan emosional. Dan sebelum orang seperti ini menerima kesembuhan dari memori tersebut, ia belum benar-benar menjadi dewasa. Tubuhnya dewasa dan pikirannya berkembang, tetapi pada satu bagian tertentu masih membeku. Ia tetap seorang anak laki-laki atau anak perempuan yang terkunci dalam kehidupan masa kecil.
Yang dibutuhkannya adalah doa untuk kesembuhan memori dari anak kecil atau remaja yang mengalami pengalaman tertentu yang membuatnya berhenti bertumbuh, pengalaman yang memenjarakan dia, membekukan dia pada satu tahapan pertumbuhannya. Semua memori ini perlu diserahkan kepada ALLAH dalam doa sehingga orang itu dapat dibebaskan dari rasa sakit dan tekanan.
Terinspirasi oleh : Kesembuhan Memori. David. A. Seamand.