Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Mg Paskah III: Kis 2:14.22-33; 1Ptr 1:17-21; Luk 24:13-35

Frustrasi, bingung dan akhirnya ‘pulang kampung”, itulah yang dialami oleh dua murid dari Emaus. Mereka meninggalkan kota idaman/suci Yerusalem, setelahYesus yang diikuti wafat disalibkan, dan tiga hari setelah penyaliban Yesus tersiar berita simpang siur di kota Yerusalem.
Yesus tidak ditemukan lagi di makam: ada yang ceritera bahwa Ia telah bangkit dari mati serta menampakkan Diri kepada para perempuan yang pagi-pagi benar pergi ke makam dan juga kepada para rasul yang ketakutan, ada yang menyebarluaskan bahwa Yesus ‘dicuri’ oleh para muridNya dan disembunyikan di tempat tertentu (berita bohong dari tokoh-tokoh Yahudi yang harus disebarluaskan setelah mereka memperoleh laporan dari para penjaga makam bahwa Yesus telah bangkit), dst.. Sebagai pendatang di kota Yerusalem dan mendengarkan berita simpang-siur tersebut merasa tidak kerasan. Mereka ‘pulang kampung’ ke Emaus, namun dalam hati mereka tetap bertanya-tanya ‘sebenarnya apa yang sedang terjadi?’ Di perjalanan mereka bercakap-cakap tentang apa yang sedang terjadi, dan tiba-tiba di tengah percakapan dan perjalanan mereka Yesus yang bangkit menampakkan Diri kepada mereka dan mendampingi perjalanan mereka ke Emaus, pulang kampung. “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu”, demikian tegoran keras Yesus kepada mereka, yang kemudian Yesus menjelaskan apa yang terjadi berdasarkan kisah-kisah yang telah tertulis dalam Kitab Suci. Mereka tidak tahu bahwa orang yang menemani mereka adalah Yesus, namun ketika “Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka”, terbukalah mata mereka dan mereka mengenal bahwa Yesuslah yang menemani mereka, dan hati mereka pun berkobar-kobar, tidak frustrasi dan bingung lagi.

Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi” (Luk 24:25)

Bodoh atau cerdas dalam hidup beriman, hidup menggereja atau dalam Kerajaan Allah adalah masalah ‘hati’, bukan otak. Hati para murid dari Emaus menjadi cerdas, berkobar-kobar serta mengenali dan mengimani Yesus yang bangkit setelah kepada mereka ‘mendengarkan kisah-kisah dalam Kitab Suci’ serta ‘pemecahan roti’, setelah mereka merenungkan Sabda/Firman Tuhan dan menghadiri ‘Perayaan Ekaristi’. Sabda atau Firman Tuhan dan Ekaristi memang menjadi sumber dan puncak iman kita, yang mencerdaskan hati kita sehingga kita memahami segala sesuatu yang sedang terjadi, maka marilah kita mawas diri perihal Sabda Tuhan dan Ekaristi.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:15-16),demikian sapaan dan peringatan Paulus kepada Timotius. Jika kita telah dibaptis sejak bayi kiranya kutipan di atas ini sungguh terjadi, sedangkan yang dibaptis dewasa kiranya sejak menjadi katekumen juga telah diperkenalkan Kitab Suci, dan selanjutkan setiap kali menghadiri ibadat sabda, doa bersama dan perayaan ekaristi senantiasa kepada kita dibacakan sabda Tuhan dari Kitab Suci. Sabda Tuhan pertama-tama dan terutama untuk dibacakan dan didengarkan. Yang dapat membacakan adalah mereka yang sudah dapat membaca, sedangkan yang dapat mendengarkan kiranya kita semua, termasuk anak-anak yang masih bayi atau bahkan dalam rahim ibu. Maka siapapun yang bertugas membacakan hendaknya dilaksanakan dengan baik, ingat ‘membacakan’ tidak sama dengan ‘membaca’,: bacakan sehingga dapat didengarkan dengan baik. Sedangkan yang mendengarkan hendaknya sungguh mendengarkan, ingat ‘mendengarkan’ tidak sama dengan ‘mendengar’. Agar kita dapat mendengarkan dengan butuh, kita harus rendah hati, tanpa kerendahan hati kita tidak dapat mendengarkan. Karena yang kita dengarkan adalah sabda Tuhan dan Tuhan maha segalanya, maka kami yakin kita akan dipengaruhi olehNya, entah diajar, ditegor, diperbaiki aau dididik, sehingga hati kita cerdas dan kita dapat memahami segala sesuatu yang sedang terjadi serta mengenali dan mengimani Yesus yang bangkit dari mati, hidup dan berkarya dalam diri kita dan sesama kita.

Ekaristi bukan hanya salah satu sakramen; Ekaristi adalah Gereja dalam bentuk sakramen. Kalau dikatakan ‘Gereja adalah bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan umat manusia’ (LG no 1), rumusan itu berlaku juga untuk Ekaristi. Ekaristi merupakan tanda dan sarana, artinya ‘sakramen’ persatuan dengan Allah dan kesatuan antar manusia” (KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 402). Yang perlu kita garis bawah atau refleksikan kiranya ‘persatuan dengan Allah dan kesatuan antar manusia’. Dengan berpartisipasi dalam atau menghadiri Perayaan Ekaristi secara aktif kita disatukan dengan Allah dan sesama kita, yang antara lain ditandai dengan sama-sama menyantap Tubuh Kristus, sehingga kita semua sama-sama dijiwai atau dihidupi olehNya , Yesus yang wafat di kayu salib dan bangkit dari mati, dan hati kita bangkit, berkobar-kobar untuk membangun, memperdalam dan menyebarluaskan hidup persaudaraan sejati.

Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah” (1Ptr 1:21)

Percaya kepada Yesus yang bangkit dari mati berarti iman dan pengharapan kita tertuju kepada Allah, semakin mempersembahkan diri kepada Allah, kepada Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup sehari-hari. Ia yang bangkit dari mati hidup dan berkarya melalui RohNya yang terus berkarya sepanjang hari melalui ciptaan-ciptaanNya, terutama manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Maka iman dan harapan tertuju kepada Allah secara konkret berarti tertuju kepada sesama manusia, sehingga di antara orang beriman terjadilah saling mempersembahkan diri dan terjadilah kesatuan antar manusia sejati.

Saling mempersembahkan diri berarti saling percaya satu sama lain, jauh dari kecurigaan maupun pelecehan pribadi. Sebagai tanda saling percaya antara lain saling memberi kebebasan sejati, tidak saling menguasai melainkan saling melayani.”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”(Yoh 13:34), demikian pesan Yesus dalam Malam Perjamuan Terakhir, yang kita kenangkan dalam bentuk Perayaan Ekaristi. Maka marilah kita hidup saling mengasihi di manapun dan kapanpun. Kasih merupakan ajaran utama dari Yesus dan “kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan” (Mzm 16:7-10)

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 6 April 2008

(Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21)

“Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang.

Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui” (Yoh 6:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Tumbuh berkembang dalam hidup beriman, untuk menjadi pribadi cerdas beriman memang tak akan terlepas dari aneka tantangan dan hambatan, apalagi di zaman/massa yang masih sarat dengan aneka macam bentuk kemesorotan moral saat ini seperti korupsi yang semakin merajalela di era Reformasi dan Desentralisasi masa kini. Gerakan desentralisasi yang dimaksudkan untuk pemberdayaan rakyat serta pengembangan demokrasi menjadi penyebaran atau pemerataan korupsi. Maka untuk hidup baik, setia pada iman bagaikan mengarungi ‘laut yang sedang bergelora karena angin kencang’, orang yang kurang beriman menjadi ketakutan dan gentar, terombang-ambing, sebagaimana dialami orang para rasul yang sedang perjalanan dalam perahu menyeberang ke Kapernaum. “Aku ini, jangan takut!”, demikian sabda Yesus, yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka yang sedang ketakutan. Di tengah gelombang kehidupan yang mengombang-ambingkan kita hadir juga Yesus yang telah bangkit
dari mati, maka marilah kita jumpai Dia. Percayalah bahwa di tengah-tengah zaman yang sarat korupsi ini masih cukup banyak yang jujur dan baik, marilah kita buka telinga dan mata hati, jiwa dan tubuh kita untuk melihat dan mendengarkan orang-orang baik dan jujur. Marilah kita yang merasa diri baik dan jujur bersama-sama, bergotong royong mengarungi gelombang korupsi: kita lindas dan berantas para koruptor di negeri ini. Kita hadapi gelombang korupsi dengan tenang serta tetap teguh dalam iman dan kebenaran agar cita-cita “Kesejahteraan rakyat dan Keadilan sosial” segera menjadi nyata, semua orang hidup damai sejahtera, cerdas beriman, aman dan tenteram.
· “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”(Kis 6:2-4), demikian kata para rasul dihadapan para pendengar mereka. Para rasul sibuk dalam pelayanan ‘doa dan firman Tuhan’, sehingga mereka yang miskin, tersingkir, berkekurangan serta para janda kurang memperoleh perhatian; dibutuhkan orang-orang yang dikenal baik untuk memperhatikan mereka yang terlupakan ini. Dalam kehidupan bersama kita kiranya mereka yang miskin, tersingkir dan berkekurangan masih cukup banyak. Di dalam Gereja ada pelayanan sosial, yang dikoordinir oleh komisi atau seksi sosial, namun kiranya gerakan yang diselenggarakan komisi atau seksi sosial untuk memperhatikan mereka yang miskin, tersingkir dan
berkekurangan belum memadai. Maka kita semua yang percaya kepada Yesus yang bangkit dipanggil untuk berpartisipasi dalam gerakan-gerakan sosial. Pada masa kini di negeri kita masih terjadi kelaparan atau kekurangan gizi yang menyebabkan kematian atau bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan gempa bumi yang menimbulkan korban-korban. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati, begitulah kata Yakobus dalam suratnya. Jika kita mengaku diri beriman marilah kita melangkah bertindak sosial, memperhatikan saudara-saudari kita yang miskin, tersingkir dan berkekurangan, entah dengan mendatangi mereka atau membantu mereka dengan harta benda atau uang sesuai dengan kebutuhan mereka yang mendesak. Selain tindakan-tindakan sosial konkret yang harus kita laksanakan, kiranya perlu kita perhatikan juga anak-anak kita atau generasi muda untuk dibina dan dididik dalam hal kepekaan sosial, solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Gerakan-gerakan ‘live
in’, tinggal dan bekerja untuk sementara waktu di desa-desa miskin, sebagaimana diselenggarakan oleh beberapa sekolah di kota-kota besar, kiranya merupakan salah satu bentuk pembinaan kepekaan sosial. Sebaliknya bagi anak-anak atau generasi muda dari desa-desa miskin yang pada umumnya lingkungan telah membekali kepekaan sosial ini hendaknya jangan menjadi pudar karena derap langkah perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung membuat orang menjadi egois.

“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:18-19).

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 5 April 2008

Jika ingin belajar Open GL silahkan anda download file ini

glut.h masukkan ke program files/microsoft visual studio/VC98/include/GL
____32.dll masukkan ke windows/system32
____.dll masukkan ke windows/system
.lib masukkan ke program files/microsoft visual studio/VC98/lib

nanti kl programnya meme ada error “file ……. cannot opened”
anda ubah include nya

#include diganti #include

Selamat Mencoba

#ifndef __glut_h__
#define __glut_h__

/* Copyright (c) Mark J. Kilgard, 1994, 1995, 1996, 1998. */

/* This program is freely distributable without licensing fees and is
provided without guarantee or warrantee expressed or implied. This
program is -not- in the public domain. */

#if defined(_WIN32)

/* GLUT 3.7 now tries to avoid including
to avoid name space pollution, but Win32′s
needs APIENTRY and WINGDIAPI defined properly. */
# if 0
# define WIN32_LEAN_AND_MEAN
# include
# else
/* XXX This is from Win32′s */
# ifndef APIENTRY
# define GLUT_APIENTRY_DEFINED
# if (_MSC_VER >= 800) || defined(_STDCALL_SUPPORTED)
# define APIENTRY __stdcall
# else
# define APIENTRY
# endif
# endif
/* XXX This is from Win32′s */
# ifndef CALLBACK
# if (defined(_M_MRX000) || defined(_M_IX86) || defined(_M_ALPHA) || defined(_M_PPC)) && !defined(MIDL_PASS)
# define CALLBACK __stdcall
# else
# define CALLBACK
# endif
# endif
/* XXX This is from Win32′s and */
# ifndef WINGDIAPI
# define GLUT_WINGDIAPI_DEFINED
# define WINGDIAPI __declspec(dllimport)
# endif
/* XXX This is from Win32′s */
# ifndef _WCHAR_T_DEFINED
typedef unsigned short wchar_t;
# define _WCHAR_T_DEFINED
# endif
# endif

#pragma comment (lib, “winmm.lib”) /* link with Windows MultiMedia lib */
#pragma comment (lib, “opengl32.lib”) /* link with Microsoft OpenGL lib */
#pragma comment (lib, “glu32.lib”) /* link with OpenGL Utility lib */
#pragma comment (lib, “glut32.lib”) /* link with Win32 GLUT lib */

#pragma warning (disable:4244) /* Disable bogus conversion warnings. */
#pragma warning (disable:4305) /* VC++ 5.0 version of above warning. */

#endif

#include
#include

/* define APIENTRY and CALLBACK to null string if we aren’t on Win32 */
#if !defined(_WIN32)
#define APIENTRY
#define GLUT_APIENTRY_DEFINED
#define CALLBACK
#endif

#ifdef __cplusplus
extern “C” {
#endif

/**
GLUT API revision history:

GLUT_API_VERSION is updated to reflect incompatible GLUT
API changes (interface changes, semantic changes, deletions,
or additions).

GLUT_API_VERSION=1 First public release of GLUT. 11/29/94

GLUT_API_VERSION=2 Added support for OpenGL/GLX multisampling,
extension. Supports new input devices like tablet, dial and button
box, and Spaceball. Easy to query OpenGL extensions.

GLUT_API_VERSION=3 glutMenuStatus added.

GLUT_API_VERSION=4 glutInitDisplayString, glutWarpPointer,
glutBitmapLength, glutStrokeLength, glutWindowStatusFunc, dynamic
video resize subAPI, glutPostWindowRedisplay, glutKeyboardUpFunc,
glutSpecialUpFunc, glutIgnoreKeyRepeat, glutSetKeyRepeat,
glutJoystickFunc, glutForceJoystickFunc (NOT FINALIZED!).
**/
#ifndef GLUT_API_VERSION /* allow this to be overriden */
#define GLUT_API_VERSION 3
#endif

/**
GLUT implementation revision history:

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION is updated to reflect both GLUT
API revisions and implementation revisions (ie, bug fixes).

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=1 mjk’s first public release of
GLUT Xlib-based implementation. 11/29/94

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=2 mjk’s second public release of
GLUT Xlib-based implementation providing GLUT version 2
interfaces.

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=3 mjk’s GLUT 2.2 images. 4/17/95

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=4 mjk’s GLUT 2.3 images. 6/?/95

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=5 mjk’s GLUT 3.0 images. 10/?/95

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=7 mjk’s GLUT 3.1+ with glutWarpPoitner. 7/24/96

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=8 mjk’s GLUT 3.1+ with glutWarpPoitner
and video resize. 1/3/97

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=9 mjk’s GLUT 3.4 release with early GLUT 4 routines.

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=11 Mesa 2.5′s GLUT 3.6 release.

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=12 mjk’s GLUT 3.6 release with early GLUT 4 routines + signal handling.

GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION=13 mjk’s GLUT 3.7 release with GameGLUT support.
**/
#ifndef GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION /* Allow this to be overriden. */
#define GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION 13
#endif

/* Display mode bit masks. */
#define GLUT_RGB 0
#define GLUT_RGBA GLUT_RGB
#define GLUT_INDEX 1
#define GLUT_SINGLE 0
#define GLUT_DOUBLE 2
#define GLUT_ACCUM 4
#define GLUT_ALPHA 8
#define GLUT_DEPTH 16
#define GLUT_STENCIL 32
#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
#define GLUT_MULTISAMPLE 128
#define GLUT_STEREO 256
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
#define GLUT_LUMINANCE 512
#endif

/* Mouse buttons. */
#define GLUT_LEFT_BUTTON 0
#define GLUT_MIDDLE_BUTTON 1
#define GLUT_RIGHT_BUTTON 2

/* Mouse button state. */
#define GLUT_DOWN 0
#define GLUT_UP 1

#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
/* function keys */
#define GLUT_KEY_F1 1
#define GLUT_KEY_F2 2
#define GLUT_KEY_F3 3
#define GLUT_KEY_F4 4
#define GLUT_KEY_F5 5
#define GLUT_KEY_F6 6
#define GLUT_KEY_F7 7
#define GLUT_KEY_F8 8
#define GLUT_KEY_F9 9
#define GLUT_KEY_F10 10
#define GLUT_KEY_F11 11
#define GLUT_KEY_F12 12
/* directional keys */
#define GLUT_KEY_LEFT 100
#define GLUT_KEY_UP 101
#define GLUT_KEY_RIGHT 102
#define GLUT_KEY_DOWN 103
#define GLUT_KEY_PAGE_UP 104
#define GLUT_KEY_PAGE_DOWN 105
#define GLUT_KEY_HOME 106
#define GLUT_KEY_END 107
#define GLUT_KEY_INSERT 108
#endif

/* Entry/exit state. */
#define GLUT_LEFT 0
#define GLUT_ENTERED 1

/* Menu usage state. */
#define GLUT_MENU_NOT_IN_USE 0
#define GLUT_MENU_IN_USE 1

/* Visibility state. */
#define GLUT_NOT_VISIBLE 0
#define GLUT_VISIBLE 1

/* Window status state. */
#define GLUT_HIDDEN 0
#define GLUT_FULLY_RETAINED 1
#define GLUT_PARTIALLY_RETAINED 2
#define GLUT_FULLY_COVERED 3

/* Color index component selection values. */
#define GLUT_RED 0
#define GLUT_GREEN 1
#define GLUT_BLUE 2

/* Layers for use. */
#define GLUT_NORMAL 0
#define GLUT_OVERLAY 1

#if defined(_WIN32)
/* Stroke font constants (use these in GLUT program). */
#define GLUT_STROKE_ROMAN ((void*)0)
#define GLUT_STROKE_MONO_ROMAN ((void*)1)

/* Bitmap font constants (use these in GLUT program). */
#define GLUT_BITMAP_9_BY_15 ((void*)2)
#define GLUT_BITMAP_8_BY_13 ((void*)3)
#define GLUT_BITMAP_TIMES_ROMAN_10 ((void*)4)
#define GLUT_BITMAP_TIMES_ROMAN_24 ((void*)5)
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_10 ((void*)6)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_12 ((void*)7)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_18 ((void*)8)
#endif
#else
/* Stroke font opaque addresses (use constants instead in source code). */
extern void *glutStrokeRoman;
extern void *glutStrokeMonoRoman;

/* Stroke font constants (use these in GLUT program). */
#define GLUT_STROKE_ROMAN (&glutStrokeRoman)
#define GLUT_STROKE_MONO_ROMAN (&glutStrokeMonoRoman)

/* Bitmap font opaque addresses (use constants instead in source code). */
extern void *glutBitmap9By15;
extern void *glutBitmap8By13;
extern void *glutBitmapTimesRoman10;
extern void *glutBitmapTimesRoman24;
extern void *glutBitmapHelvetica10;
extern void *glutBitmapHelvetica12;
extern void *glutBitmapHelvetica18;

/* Bitmap font constants (use these in GLUT program). */
#define GLUT_BITMAP_9_BY_15 (&glutBitmap9By15)
#define GLUT_BITMAP_8_BY_13 (&glutBitmap8By13)
#define GLUT_BITMAP_TIMES_ROMAN_10 (&glutBitmapTimesRoman10)
#define GLUT_BITMAP_TIMES_ROMAN_24 (&glutBitmapTimesRoman24)
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_10 (&glutBitmapHelvetica10)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_12 (&glutBitmapHelvetica12)
#define GLUT_BITMAP_HELVETICA_18 (&glutBitmapHelvetica18)
#endif
#endif

/* glutGet parameters. */
#define GLUT_WINDOW_X 100
#define GLUT_WINDOW_Y 101
#define GLUT_WINDOW_WIDTH 102
#define GLUT_WINDOW_HEIGHT 103
#define GLUT_WINDOW_BUFFER_SIZE 104
#define GLUT_WINDOW_STENCIL_SIZE 105
#define GLUT_WINDOW_DEPTH_SIZE 106
#define GLUT_WINDOW_RED_SIZE 107
#define GLUT_WINDOW_GREEN_SIZE 108
#define GLUT_WINDOW_BLUE_SIZE 109
#define GLUT_WINDOW_ALPHA_SIZE 110
#define GLUT_WINDOW_ACCUM_RED_SIZE 111
#define GLUT_WINDOW_ACCUM_GREEN_SIZE 112
#define GLUT_WINDOW_ACCUM_BLUE_SIZE 113
#define GLUT_WINDOW_ACCUM_ALPHA_SIZE 114
#define GLUT_WINDOW_DOUBLEBUFFER 115
#define GLUT_WINDOW_RGBA 116
#define GLUT_WINDOW_PARENT 117
#define GLUT_WINDOW_NUM_CHILDREN 118
#define GLUT_WINDOW_COLORMAP_SIZE 119
#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
#define GLUT_WINDOW_NUM_SAMPLES 120
#define GLUT_WINDOW_STEREO 121
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
#define GLUT_WINDOW_CURSOR 122
#endif
#define GLUT_SCREEN_WIDTH 200
#define GLUT_SCREEN_HEIGHT 201
#define GLUT_SCREEN_WIDTH_MM 202
#define GLUT_SCREEN_HEIGHT_MM 203
#define GLUT_MENU_NUM_ITEMS 300
#define GLUT_DISPLAY_MODE_POSSIBLE 400
#define GLUT_INIT_WINDOW_X 500
#define GLUT_INIT_WINDOW_Y 501
#define GLUT_INIT_WINDOW_WIDTH 502
#define GLUT_INIT_WINDOW_HEIGHT 503
#define GLUT_INIT_DISPLAY_MODE 504
#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
#define GLUT_ELAPSED_TIME 700
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 13)
#define GLUT_WINDOW_FORMAT_ID 123
#endif

#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
/* glutDeviceGet parameters. */
#define GLUT_HAS_KEYBOARD 600
#define GLUT_HAS_MOUSE 601
#define GLUT_HAS_SPACEBALL 602
#define GLUT_HAS_DIAL_AND_BUTTON_BOX 603
#define GLUT_HAS_TABLET 604
#define GLUT_NUM_MOUSE_BUTTONS 605
#define GLUT_NUM_SPACEBALL_BUTTONS 606
#define GLUT_NUM_BUTTON_BOX_BUTTONS 607
#define GLUT_NUM_DIALS 608
#define GLUT_NUM_TABLET_BUTTONS 609
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 13)
#define GLUT_DEVICE_IGNORE_KEY_REPEAT 610
#define GLUT_DEVICE_KEY_REPEAT 611
#define GLUT_HAS_JOYSTICK 612
#define GLUT_OWNS_JOYSTICK 613
#define GLUT_JOYSTICK_BUTTONS 614
#define GLUT_JOYSTICK_AXES 615
#define GLUT_JOYSTICK_POLL_RATE 616
#endif

#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
/* glutLayerGet parameters. */
#define GLUT_OVERLAY_POSSIBLE 800
#define GLUT_LAYER_IN_USE 801
#define GLUT_HAS_OVERLAY 802
#define GLUT_TRANSPARENT_INDEX 803
#define GLUT_NORMAL_DAMAGED 804
#define GLUT_OVERLAY_DAMAGED 805

#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
/* glutVideoResizeGet parameters. */
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_POSSIBLE 900
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_IN_USE 901
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_X_DELTA 902
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_Y_DELTA 903
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_WIDTH_DELTA 904
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_HEIGHT_DELTA 905
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_X 906
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_Y 907
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_WIDTH 908
#define GLUT_VIDEO_RESIZE_HEIGHT 909
#endif

/* glutUseLayer parameters. */
#define GLUT_NORMAL 0
#define GLUT_OVERLAY 1

/* glutGetModifiers return mask. */
#define GLUT_ACTIVE_SHIFT 1
#define GLUT_ACTIVE_CTRL 2
#define GLUT_ACTIVE_ALT 4

/* glutSetCursor parameters. */
/* Basic arrows. */
#define GLUT_CURSOR_RIGHT_ARROW 0
#define GLUT_CURSOR_LEFT_ARROW 1
/* Symbolic cursor shapes. */
#define GLUT_CURSOR_INFO 2
#define GLUT_CURSOR_DESTROY 3
#define GLUT_CURSOR_HELP 4
#define GLUT_CURSOR_CYCLE 5
#define GLUT_CURSOR_SPRAY 6
#define GLUT_CURSOR_WAIT 7
#define GLUT_CURSOR_TEXT 8
#define GLUT_CURSOR_CROSSHAIR 9
/* Directional cursors. */
#define GLUT_CURSOR_UP_DOWN 10
#define GLUT_CURSOR_LEFT_RIGHT 11
/* Sizing cursors. */
#define GLUT_CURSOR_TOP_SIDE 12
#define GLUT_CURSOR_BOTTOM_SIDE 13
#define GLUT_CURSOR_LEFT_SIDE 14
#define GLUT_CURSOR_RIGHT_SIDE 15
#define GLUT_CURSOR_TOP_LEFT_CORNER 16
#define GLUT_CURSOR_TOP_RIGHT_CORNER 17
#define GLUT_CURSOR_BOTTOM_RIGHT_CORNER 18
#define GLUT_CURSOR_BOTTOM_LEFT_CORNER 19
/* Inherit from parent window. */
#define GLUT_CURSOR_INHERIT 100
/* Blank cursor. */
#define GLUT_CURSOR_NONE 101
/* Fullscreen crosshair (if available). */
#define GLUT_CURSOR_FULL_CROSSHAIR 102
#endif

/* GLUT initialization sub-API. */
extern void APIENTRY glutInit(int *argcp, char **argv);
extern void APIENTRY glutInitDisplayMode(unsigned int mode);
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
extern void APIENTRY glutInitDisplayString(const char *string);
#endif
extern void APIENTRY glutInitWindowPosition(int x, int y);
extern void APIENTRY glutInitWindowSize(int width, int height);
extern void APIENTRY glutMainLoop(void);

/* GLUT window sub-API. */
extern int APIENTRY glutCreateWindow(const char *title);
extern int APIENTRY glutCreateSubWindow(int win, int x, int y, int width, int height);
extern void APIENTRY glutDestroyWindow(int win);
extern void APIENTRY glutPostRedisplay(void);
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 11)
extern void APIENTRY glutPostWindowRedisplay(int win);
#endif
extern void APIENTRY glutSwapBuffers(void);
extern int APIENTRY glutGetWindow(void);
extern void APIENTRY glutSetWindow(int win);
extern void APIENTRY glutSetWindowTitle(const char *title);
extern void APIENTRY glutSetIconTitle(const char *title);
extern void APIENTRY glutPositionWindow(int x, int y);
extern void APIENTRY glutReshapeWindow(int width, int height);
extern void APIENTRY glutPopWindow(void);
extern void APIENTRY glutPushWindow(void);
extern void APIENTRY glutIconifyWindow(void);
extern void APIENTRY glutShowWindow(void);
extern void APIENTRY glutHideWindow(void);
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
extern void APIENTRY glutFullScreen(void);
extern void APIENTRY glutSetCursor(int cursor);
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
extern void APIENTRY glutWarpPointer(int x, int y);
#endif

/* GLUT overlay sub-API. */
extern void APIENTRY glutEstablishOverlay(void);
extern void APIENTRY glutRemoveOverlay(void);
extern void APIENTRY glutUseLayer(GLenum layer);
extern void APIENTRY glutPostOverlayRedisplay(void);
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 11)
extern void APIENTRY glutPostWindowOverlayRedisplay(int win);
#endif
extern void APIENTRY glutShowOverlay(void);
extern void APIENTRY glutHideOverlay(void);
#endif

/* GLUT menu sub-API. */
extern int APIENTRY glutCreateMenu(void (*)(int));
extern void APIENTRY glutDestroyMenu(int menu);
extern int APIENTRY glutGetMenu(void);
extern void APIENTRY glutSetMenu(int menu);
extern void APIENTRY glutAddMenuEntry(const char *label, int value);
extern void APIENTRY glutAddSubMenu(const char *label, int submenu);
extern void APIENTRY glutChangeToMenuEntry(int item, const char *label, int value);
extern void APIENTRY glutChangeToSubMenu(int item, const char *label, int submenu);
extern void APIENTRY glutRemoveMenuItem(int item);
extern void APIENTRY glutAttachMenu(int button);
extern void APIENTRY glutDetachMenu(int button);

/* GLUT window callback sub-API. */
extern void APIENTRY glutDisplayFunc(void (*func)(void));
extern void APIENTRY glutReshapeFunc(void (*func)(int width, int height));
extern void APIENTRY glutKeyboardFunc(void (*func)(unsigned char key, int x, int y));
extern void APIENTRY glutMouseFunc(void (*func)(int button, int state, int x, int y));
extern void APIENTRY glutMotionFunc(void (*func)(int x, int y));
extern void APIENTRY glutPassiveMotionFunc(void (*func)(int x, int y));
extern void APIENTRY glutEntryFunc(void (*func)(int state));
extern void APIENTRY glutVisibilityFunc(void (*func)(int state));
extern void APIENTRY glutIdleFunc(void (*func)(void));
extern void APIENTRY glutTimerFunc(unsigned int millis, void (*func)(int value), int value);
extern void APIENTRY glutMenuStateFunc(void (*func)(int state));
#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
extern void APIENTRY glutSpecialFunc(void (*func)(int key, int x, int y));
extern void APIENTRY glutSpaceballMotionFunc(void (*func)(int x, int y, int z));
extern void APIENTRY glutSpaceballRotateFunc(void (*func)(int x, int y, int z));
extern void APIENTRY glutSpaceballButtonFunc(void (*func)(int button, int state));
extern void APIENTRY glutButtonBoxFunc(void (*func)(int button, int state));
extern void APIENTRY glutDialsFunc(void (*func)(int dial, int value));
extern void APIENTRY glutTabletMotionFunc(void (*func)(int x, int y));
extern void APIENTRY glutTabletButtonFunc(void (*func)(int button, int state, int x, int y));
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
extern void APIENTRY glutMenuStatusFunc(void (*func)(int status, int x, int y));
extern void APIENTRY glutOverlayDisplayFunc(void (*func)(void));
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
extern void APIENTRY glutWindowStatusFunc(void (*func)(int state));
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 13)
extern void APIENTRY glutKeyboardUpFunc(void (*func)(unsigned char key, int x, int y));
extern void APIENTRY glutSpecialUpFunc(void (*func)(int key, int x, int y));
extern void APIENTRY glutJoystickFunc(void (*func)(unsigned int buttonMask, int x, int y, int z), int pollInterval);
#endif
#endif
#endif

/* GLUT color index sub-API. */
extern void APIENTRY glutSetColor(int, GLfloat red, GLfloat green, GLfloat blue);
extern GLfloat APIENTRY glutGetColor(int ndx, int component);
extern void APIENTRY glutCopyColormap(int win);

/* GLUT state retrieval sub-API. */
extern int APIENTRY glutGet(GLenum type);
extern int APIENTRY glutDeviceGet(GLenum type);
#if (GLUT_API_VERSION >= 2)
/* GLUT extension support sub-API */
extern int APIENTRY glutExtensionSupported(const char *name);
#endif
#if (GLUT_API_VERSION >= 3)
extern int APIENTRY glutGetModifiers(void);
extern int APIENTRY glutLayerGet(GLenum type);
#endif

/* GLUT font sub-API */
extern void APIENTRY glutBitmapCharacter(void *font, int character);
extern int APIENTRY glutBitmapWidth(void *font, int character);
extern void APIENTRY glutStrokeCharacter(void *font, int character);
extern int APIENTRY glutStrokeWidth(void *font, int character);
#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
extern int APIENTRY glutBitmapLength(void *font, const unsigned char *string);
extern int APIENTRY glutStrokeLength(void *font, const unsigned char *string);
#endif

/* GLUT pre-built models sub-API */
extern void APIENTRY glutWireSphere(GLdouble radius, GLint slices, GLint stacks);
extern void APIENTRY glutSolidSphere(GLdouble radius, GLint slices, GLint stacks);
extern void APIENTRY glutWireCone(GLdouble base, GLdouble height, GLint slices, GLint stacks);
extern void APIENTRY glutSolidCone(GLdouble base, GLdouble height, GLint slices, GLint stacks);
extern void APIENTRY glutWireCube(GLdouble size);
extern void APIENTRY glutSolidCube(GLdouble size);
extern void APIENTRY glutWireTorus(GLdouble innerRadius, GLdouble outerRadius, GLint sides, GLint rings);
extern void APIENTRY glutSolidTorus(GLdouble innerRadius, GLdouble outerRadius, GLint sides, GLint rings);
extern void APIENTRY glutWireDodecahedron(void);
extern void APIENTRY glutSolidDodecahedron(void);
extern void APIENTRY glutWireTeapot(GLdouble size);
extern void APIENTRY glutSolidTeapot(GLdouble size);
extern void APIENTRY glutWireOctahedron(void);
extern void APIENTRY glutSolidOctahedron(void);
extern void APIENTRY glutWireTetrahedron(void);
extern void APIENTRY glutSolidTetrahedron(void);
extern void APIENTRY glutWireIcosahedron(void);
extern void APIENTRY glutSolidIcosahedron(void);

#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 9)
/* GLUT video resize sub-API. */
extern int APIENTRY glutVideoResizeGet(GLenum param);
extern void APIENTRY glutSetupVideoResizing(void);
extern void APIENTRY glutStopVideoResizing(void);
extern void APIENTRY glutVideoResize(int x, int y, int width, int height);
extern void APIENTRY glutVideoPan(int x, int y, int width, int height);

/* GLUT debugging sub-API. */
extern void APIENTRY glutReportErrors(void);
#endif

#if (GLUT_API_VERSION >= 4 || GLUT_XLIB_IMPLEMENTATION >= 13)
/* GLUT device control sub-API. */
/* glutSetKeyRepeat modes. */
#define GLUT_KEY_REPEAT_OFF 0
#define GLUT_KEY_REPEAT_ON 1
#define GLUT_KEY_REPEAT_DEFAULT 2

/* Joystick button masks. */
#define GLUT_JOYSTICK_BUTTON_A 1
#define GLUT_JOYSTICK_BUTTON_B 2
#define GLUT_JOYSTICK_BUTTON_C 4
#define GLUT_JOYSTICK_BUTTON_D 8

extern void APIENTRY glutIgnoreKeyRepeat(int ignore);
extern void APIENTRY glutSetKeyRepeat(int repeatMode);
extern void APIENTRY glutForceJoystickFunc(void);

/* GLUT game mode sub-API. */
/* glutGameModeGet. */
#define GLUT_GAME_MODE_ACTIVE 0
#define GLUT_GAME_MODE_POSSIBLE 1
#define GLUT_GAME_MODE_WIDTH 2
#define GLUT_GAME_MODE_HEIGHT 3
#define GLUT_GAME_MODE_PIXEL_DEPTH 4
#define GLUT_GAME_MODE_REFRESH_RATE 5
#define GLUT_GAME_MODE_DISPLAY_CHANGED 6

extern void APIENTRY glutGameModeString(const char *string);
extern int APIENTRY glutEnterGameMode(void);
extern void APIENTRY glutLeaveGameMode(void);
extern int APIENTRY glutGameModeGet(GLenum mode);
#endif

#ifdef __cplusplus
}

#endif

#ifdef GLUT_APIENTRY_DEFINED
# undef GLUT_APIENTRY_DEFINED
# undef APIENTRY
#endif

#ifdef GLUT_WINGDIAPI_DEFINED
# undef GLUT_WINGDIAPI_DEFINED
# undef WINGDIAPI
#endif

#endif /* __glut_h__ */

Scandal of the Evangelical Conscience
The: Why Are Christians Living Just Like the Rest of the World?

Author : Ronald J. Sider
Edition : Paperback
Price : 12.99
Dimensions : 5.5 x 8.5
Number of Pages : 144
Publication Date : Feb. 05

Status: Available

Description: Why Are Christians Living Just Like the Rest of the World?


Evangelical Christians say they believe in biblical moral standards and the power of God to transform lives-yet recent surveys show that most are not living any differently than the rest of the world. From money to sex to racism to personal self-fulfillment, a scandalous percentage of Christians are violating biblical standards with barely a twinge of conviction.

Ron Sider takes a painfully honest look at this disconnect to reveal the depth of the problem and contrast it with biblical teaching on the transforming power of genuine faith. When we apply these biblical teachings to our lives, we will be more suited to close the gap between who we are and who God calls us to be.

Author Information: Ronald J. Sider is president of Evangelicals for Social Action and professor of theology, holistic ministry, and public policy at Eastern Baptist Theological Seminary. The author of more than twenty books, he resides in Philadelphia, Pennsylvania.

Endorsements: “Every now and then, somebody needs to step on the toes of the body of Christ. Reading this book may make you wince, but the pain of self-examination is worth it.”–David Neff, editor and vice president, Christianity Today

“The Scandal of the Evangelical Conscience summons us to take the gospel seriously. For the good of society-and perhaps even for the sake of our souls-we had better take notice.”–Randall Balmer, author, Growing Pains: Learning to Love My Father’s Faith

“When the behavior of members of a religious movement turns out to be little better, and sometimes worse, than that of its neighbors, leaders and members of that movement should take notice. They should ask some deep questions not only about that behavior but also about the systems that produce or support it. Ron Sider has me asking those kinds of questions, thanks to his clear diagnosis and thoughtful prescription.”–Brian McLaren, pastor, author (anewkindofchristian.com)

“If you’ve ever wondered why today’s evangelicals lack the societal influence their numbers would seem to bestow, Ron Sider offers an answer.”–Duane Litfin, president, Wheaton College

“The conscience of many evangelicals has been programmed more by social patterns than by the Scripture. In this work Ron Sider gives us an impressive critique of this scandal and calls us to a rediscovery of the ethics of Christ.”–Myron S. Augsburger, president emeritus, Council for Christian Colleges & Universities

“Ron Sider’s greatest gift to the church is his willingness to tell us the hard, obvious truth about ourselves. This book is strong medicine-a diagnosis that will take your breath away, but also a prescription that could make the difference between life and death
for biblical faith in America.”–Andy Crouch, former editor, Re:generation Quarterly

Reviews: “We believe this may prove to be the most significant book of 2005. There is something tragically wrong with the kind of Christianity that so dominates American culture. It is beyond embarrassing . . . it is SCANDALOUS. Here is a powerful antidote that needs to be taken in full dose.”–Rob Schläpfer, christiancounterculture.com

“This stinging jeremiad by Sider demands that American Christians start practicing what they preach. Incisive and prophetic.”–Publishers Weekly

“Sider’s Scandal is a short, popular level, and fiery manifesto that does for evangelical social ethics what Mark Noll did for our paltry intellectual life in his book. Clearly, many might find that invasive or extreme, but if Sider is right, we need a powerful antidote for a dreadful sickness.”–Dan Clendenin, The Journey with Jesus Foundation

“This book deserves a place one every Christian’s shelf. While this book is hard-hitting, it is not without hope. The book is short and can be read in little time. It’s content, however, deserves our utmost attention and requires that people of faith not only go to their knees for the Christian communities of North America, but also rise up and begin to live and promote a faith that is active.”–Mennonite Brethren Herald

“The Scandal of the Evangelical Conscience certainly shocks it readers by exposing depravity in evangelical circles, but, more importantly, it delivers a message of real hope by presenting a faithfully biblical view of salvation and the church and by issuing a forthright call to repentance and holiness of heart and life. Sider’s writing is easily accessible to any thinking Christian, yet he raises important theological questions. This book merits careful study, prayer, and reflection, in the expectation that God will bring much-need renewal to the evangelical church.”–Brethren in Christ, History & Life

“A strongly biblical, unflinching, thoughtful assessment of the attitudes and practices of self-identified evangelicals relative to American culture at large.”–Christianity Today Book Awards 2006

(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)

“Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang
banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada
Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat
makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri
tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti
seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun
masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-
murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-
Nya:”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan
dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata
Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak
rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki
banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan
membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga
dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan
setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-
Nya: “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada
yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua
belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai
yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat
mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah
benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.”(Yoh 6:5-14),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-
catatan sederhana sebagai berikut:
• Jika anda memasuki kapel Kolese Kanisius, Jl.Menteng Raya
64, Jakarta Pusat, warta gemibira/Injil hari ini divisualisasikan
dengan 3(tiga) gambar/lukisan yang menghiasi kaca jendela di atas
tabernakel: Yesus di tengah-tengah memegang roti dan diapit oleh
Petrus serta seorang anak yang membawa roti dan ikan di tangannya.
Banyak orang berbondong-bondong mengikuti dan mendengarkan
pengajaran Yesus sampai mereka lupa makan dan kelaparan. Apa yang
kemudian dilakukanNya semakin membuat banyak orang tersebut percaya
kepadaNya. Ia menggandakan `lima roti jelai dan dua ikan’ yang
dibawa oleh seorang anak, sehingga mereka dapat makan kenyang,
bahkan masih tersisa banyak sekali. Yang sedikit dipersembahkan
semuanya kepada Tuhan akhirnya menjadi berkat melimpah bagi banyak
orang, itulah mujizat yang terjadi. Maka baiklah kita, sebagai orang
yang beriman, yang percaya kepada Yesus Kristus, marilah meneladan
anak tersebut. Berapa pun dan apapun yang kita miliki marilah tidak
hanya dinikmati diri sendiri, melainkan kita persembahkan kepada
Tuhan, kita bagikan kepada sesama dan saudara-saudari kita yang
lebih miskin dan berkekurangan atau sama sekali tidak memiliki apa-
apa. Mungkin bukan `roti atau ikan’ atau makanan yang kita bagikan
kepada orang lain, melainkan kemampuan, keterampilan atau
pengetahuan. Percaya dan imanilah bahwa kemampuan, keterampilan dan
pengetahuan semakin diberikan kepada banyak orang tidak akan
berkurang, tetapi justru semakin bertambah dan berlipat ganda: kita
semakin diperkaya dan orang lain juga semakin punya dan mungkin juga
menjadi kaya.
• “Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah
mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia,
tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan
dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti,
bahwa kamu melawan Allah.” (Kis 5:38-39), demikian kata Gamaliel
kepada teman-temannya, orang-orang Farisi di Mahkamah Agama., dalam
rangka menyikapi apa yang dilakukan oleh para rasul. “Kebebasan yang
bertanggungjawab” itulah pedoman hidup yang senada dengan apa yang
dikatakan oleh Gamaliel. Kita tidak dapat menuntut tanggungjawab
seseorang jika kita tidak memberi kebebasan kepadanya. Pedoman ini
rasanya perlu menjadi perhatian atau opsi bagi para orangtua dalam
rangka mendidik anak-anaknya, para guru dalam mendampingi para
peserta didiknya, pejabat/petinggi masyarakat atau bangsa kepada
rakyatnya, dst.. “Kebebasan dan cintakasih Injili” itulah cirikhas
pendidikan, pembinaan atau pendampingan yang baik. Maka dengan ini
kami berharap dan menghimbau kepada para orangtua, guru atau
pejabat/pemimpin untuk tidak takut-takut memberi kebebasan kepada
anak-anak, peserta didik atau rakyatnya. Secara periodik anak-anak,
peserta didik atau rakyat diajak berrefleksi atau evaluasi diri,
untuk mengetahui mana yang baik atau buruk dan kemudian memperdalam
dan melanjutkan apa yang baik serta meninggalkan apa yang buruk.
Melengkapi pedoman di atas baiklah kita ingat juga motto “trial and
error”, dalam perjalanan hidup maupun penghayatan panggilan dan
pelaksanaan tugas perutusan.

” Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri
orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan
teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
(Mzm 27:13-14)

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 4 April 2008

(Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36)

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”(Yoh 3:31-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Kita semua adalah ciptaan Allah, berasal dari Allah atau ‘dari atas’, dan hanya dapat hidup bahagia, damai sejahtera karena atau dalam Allah saja. Segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai saat ini adalah anugerah Allah, maka baiklah kita fungsikan semuanya itu sesuai dengan kehendak Allah, sehingga cara hidup atau cara bertndak kita merupakan kesaksian bahwa kita adalah ciptaan Allah, ‘milik Allah’ atau bersalah ‘dari atas’. Dengan bantuan anugerah RohNya kita dipanggil untuk menyampaikan atau mewartakan firman Allah kepada dunia, sesama manusia. Untuk itu pertama-tama diri kita sendiri harus akrab dengan firman Allah, akrab dengan Yesus Kristus dan sabda-sabdaNya sebagaimana diwartakan oleh para penginjil, itulah tanda bahwa kita sungguh beriman kepada Yesus yang bangkit dari mati. “Allah menganugerahkan RohNya dengan tak terbatas”, artinya antara lain kapanpun dan dimanapun kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan
kehendak atau suara Roh Kudus, sehingga kelak kemudian hari ketika dipanggil Tuhan kita ‘beroleh hidup yang kekal’. Hidup kekal pada masa kini, selama hidup di dunia ini, kiranya juga sudah dapat kita nikmati atau cicipi dengan senantiasa hidup baik atau suci dalam hidup sehari-hari, hidup saling mengasihi baik dalam untung maupun malang. “Kasih dan saling mengasihi” merupakan inti firman Allah yang harus kita hayati dan sebarluaskan; kasih sungguh menghidupkan dan menggairahkan dan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)
· “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”(Kis 5:29), demikian jawaban Petrus atas larangan para Imam Besar di Mahkamah Agama, larangan untuk mewartakan Kabar Baik, Yesus yang wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. Siapa yang bersatu dengan Allah, hidup sesuai dengan kehendak Allah, atau paling suci, itulah yang harus kita taati dalam hidup dan cara bertindak kita. Jika kita jujur kiranya kita tahu bahwa anak-anak lebih suci daripada orangtua, yang muda lebih suci daripada yang tua, sebagaimana diwartakan oleh penginjil Yohanes: “Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua” (Yoh 8:7-9). Maka dengan ini
kami mengajak dan mengingatkan para orangtua untuk ‘taat kepada anak-anaknya’, para guru untuk ‘taat kepada para murid atau para peserta didiknya’, artinya marilah mereka, anak-anak dan para peserta didik, kita layani sebaik mungkin. Mereka ada masa depan kita, masa depan bangsa dan Gereja. Hendaknya dana/uang/harta benda atau tenaga yang kita miliki atau kuasa diprioritaskan untuk pendidikan atau pembinaan anak-anak. Pendidikan yang bermutu memang mahal, harus ‘dibayar dengan uang maupun tenaga’ seoptimal mungkin. Di dalam hidup menggereja atau beriman yang harus kita taati adalah mereka yang lebih suci atau lebih beriman. Maka hendaknya kita lebih takut dan kawatir jika anak-anak kurang terdidik daripada takut kepada atasan atau pejabat tinggi terkait dalam karya dan pelayanan kita.

“Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu “(Mzm 34:17-20)

(rm_maryo@yahoo.com)

Jakarta, 3 April 2008

Pertobatan = Penyerahan diri???
(Markus 14: 32-42)

Pergumulan TUHAN YESUS di Taman Getsemani merupakan pergumulan yang menakutkan dalam penderitaan yang mendalam. Apa saja yang digumulkanNYA?? Bukankah YESUS memiliki kehendak yang sama dengan kehendak BAPA-NYA? Bukankah YESUS berkata: MakananKU ialah melakukan kehendak ALLAH, kehendakKU adalah kehendak ALLAH, sukacitaKU adalah melakukan kehendak BAPA-KU?

Hmm tentu saja penyerahanNYA kepada kehendak ALLAH sudah teguh dan mantap. Namun emosiNYA menggoncangkan diriNYA dan memperbesar pergumulanNYA. Hmm….TUHAN YESUS menerima dan merasakan pergumulan emosionalNYA…….

Penyerahan diri merupakan krisis yang sudah pasti dan proses yang tidak pernah berakhir. Saat berbicara mengenai penyerahan diri, kita sedang berbicara mengenai komitmen dari kehendak kita kepada kehendak KRISTUS. Kita mungkin membuat komitmen dan berkata: “Bukan kehendakku, tetapi biarlah kehendakMU yang jadi” dan bertekad untuk melakukannya. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan waktu sepanjang hidup.

Salah satu kesalahan dari pemahaman tentang kekudusan adalah meminta diri kita melakukan sesuatu yang secara psikologis dan emosional tidak mungkin, yaitu beralih terlalu cepat dari pertobatan menuju penyerahan diri. Tampaknya ALLAH harus membawa kita kepada serangkaian langkah sampai kita benar-benar hilang harapan. Hanya ALLAH yang dapat membuat kita melakukannya. Tidak ada Hamba TUHAN, tidak ada manipulasi emosi yang dapat melakukan hal ini.

Kita akan menjalani kehidupan yang lebih bijak, lebih indah jikalau kita dengan jujur mengakui pada diri kita sendiri dan kepada ALLAH bahwa kita seperti YESUS, mengalami pergumulan antara emosi dan kehendak kita.

Hmm jangan memberikan pemahaman yang keliru kepada adek-adek rohani kita tentang penyerahan diri, dengan melakukan itu kita membawa mereka kepada kepalsuan rohani.
Ada orang-orang yang benar-benar telah dirusak sedemikian rupa sehingga mereka membutuhkan kesembuhan sebelum ada penyerahan diri yang sesungguhnya. Tidak setiap orang menerima berita penyerahan diri pada waktu yang sama. Kita perlu menyerahkan orang-orang itu dalam tangan ROH yang mempersiapkan mereka untuk mengahadapi krisis yang paling utama.

Hmm sebagai kakak KTB ato orangtua rohani,
kita harus mampu menyeimbangkan fungsi nabi dan gembala. Berperan sebagai nabi, kita menyatakan kebenaran, menguraikan doktrin-doktrin iman yang penting, menegakkan standart-standart Alkitabiah untuk kehidupan, berbicara tentang dosa, kebenaran dan penghakiman, memanggil orang-orang pada pertobatan, keselamatan dan pengudusan. Berperan sebagai gembala, kita menawarkan makanan Firman yang membangun dan memberikan dorongan, memberikan penghiburan kepada yang sedih dan pengharapan kepada yang putus asa, membangkitkan yang jatuh, menghibur yang takut dan menyembuhkan yang sakit.
TUHAN YESUS menggabungkan keduanya dengan cara yang paling sempurna “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).

Kadangkala orang tua rohani lebih mematahkan semangat anak-anak rohaninya dan menghalangi mereka untuk mencari pertolongan dan penyembuhan yang benar-benar dibutuhkan.

….salah satu peristiwa yang paling menimbulkan kemarahan dalam pelayanan konseling saya ialah ketika saya mendengar isakan seorang wanita muda yang menyingkapkan kisahnya. Judy dalam penderitan yang dalam ia membagikan kepada seorang penginjil: bagaimana ayahnya yang pendeta telah berulangkali memerkosanya, ia mengakui perasaannya yang kacau balau, yang terus menerus membuatnya tertekan dan dikalahkan secara rohani. Jawaban yang segera diberikan oleh penginjil itu adalah jika ia mau bertobat maka ALLAH akan “membereskan” perasaan-perasaannya. Penginjil itu begitu penuh dengan jawaban-jawaban sehingga tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaannya atau mendengar kisahnya secara lengkap….(Seamans: 1997)

…..seorang wanita muda yang menjumpai saya untuk konseling sedang mengalami patah hati, dengan linangan air mata, depresi dan hancur. Beberapa teman Kristennya yang “rohani” meyakinkannya bahwa pasti ada sesuatu yang salah dalam dirinya sampai memilki pergumulan seperti itu. Bukannya membantu, teman-teman Kristenya yang “rohani” semakin menambah berat beban rasa bersalah rohaninya kepada hatinya yang sudah berbeban terlalu berat…(Seamands: 2000)

Hmm seringkali orangtua rohani menganalisis semua itu dalam pikiran mereka, menyadarkan masalah-masalah yang membutuhkan jalan keluar dan memecahkan jalan keluarnya. Namun setelah semuanya berakhir, tidak ada sesuatupun yang benar-benar berubah. Semua itu seperti jenis permainan intelektual dan rohani yang mengagumkan. Segala sesuatu terjadi dalam pikiran.

Hal itu benar-benar menyebabkan anak-anak rohaninya bertambah takut dan memperkuat pertahanan mereka sehingga memori-memori ini dicampakkan lebih jauh ke bawah permukaan. Pengalaman apapun yang tidak dapat diatasi dengan pergumulan emosi pada masa sekarang, harus dibayar berlipat ganda di kemudian hari………..

Hmm TUHAN YESUS, menghargai sisi manusiawiNYA, Tuhan Yesus mengalami dan mengekspresikan emosi-emosiNYA. IA menghargai kesehatan jiwa manusia. IA adalah satu-satunya manusia sempurna yang pernah hidup.
Apakah kita akan berpikir bahwa pertobatan TUHAN YESUS perlu dipertanyakan??? Jangan memberikan pemahaman yang keliru ttg pertobatan dan penyerahan diri!!!

Hmm menjelaskan tidak sama dengan mengakui. ….
Hal yang paling baik untuk dilakukan adalah meminta mereka mengakui dan mengijinkan hatinya merasakannya, menyerahkan perasaan kepada ALLAH dalam kejujuran dan menceritakan kepadaNYA perasaan mereka yang sebenarnya. Memberikan penghiburan kepada yang sedih dan pengharapan kepada yang putus asa, membangkitkan yang jatuh, menghibur yang takut dan menyembuhkan yang sakit. Kemudian menegaskan kembali penyerahan sepenuhnya yang telah mereka komitmenkan dan meminta pertolongan ALLAH untuk melakukannya…….

TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.

Kadangkala orang tua rohani mendidik dengan penghinaan, rasa bersalah dan rasa malu untuk memanipulasi “perubahan-perubahan” rohani anak-anaknya………
Hmm TUHAN YESUS memuridkan kedua belas muridNYA dalam waktu sekitar 3 tahun. Pemuridan yang dikerjakanNYA bukan satu minggu sekali ketemu, tetapi mereka hidup bersamaNYA setiap hari. Hmm tapi apa yang terjadi??? Petrus menyangkalNYA tiga kali, bahkan saat DIA bangkit malahan Petrus kembali menjadi penjala ikan…
Hmm apakah TUHAN YESUS berkata: Hmm Petrus, percuma klo Cuma punya keinginan untuk berubah tetapi gak dilakukan????? Hmm TUHAN YESUS menampakkan diriNYA pada Petrus. TUHAN YESUS menangani penyangkalan Petrus dan pemulihannya. Tiga kali Petrus menyangkal TUHAN YESUS, tiga kali ia ditanya untuk meneguhkan kasihnya kepadaNYA. TUHAN YESUS menyembuhkan rasa sakit dan malu Petrus. Ketika Petrus menghadapi rasa sakit itu dalam segala kekhususannya, memori-memorinya disembuhkan dan ia dipulihkan dan dikembalikan lagi pada tugas pelayanan.
Apakah kita akan berpikir bahwa TUHAN YESUS perlu dipertanyakan??? Jangan memberikan pemahaman yang keliru ttg pertobatan dan penyerahan diri!!!

TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.

Hmm seringkali orangtua rohani berpikir jika doktrin atau gagasan yang diajarkan secara Alkitabiah itu benar, maka secara otomatis akan menjelaskan kepada anak-anak rohaninya konsep mengenai ALLAH dan membuat anak-anak rohaninya untuk percaya dan bergantung kepada ALLAH. ……

….dapatkah seorang yang tidak pernah mengalami kasih yang tulus, tetapi hanya kebencian, penolakan dan bahkan kekejaman sebagai seorang anak, benar-benar percaya bahwa ALLAH mengasihinya?? Dapatkah seorang anak laki-laki yang tidak pernah mendapatkan apa-apa dari ibunya yang tidak dapat disenangkan selain kritikan, celaan, teguran dan penghinaan benar-benar percaya bahwa hidupnya berkenan pada ALLAH?? Jenis pertanyaan teologis bagaimana yang akan kita berikan pada seorang anak perempuan yang berkata mengenai “saya tidak pernah tahu apakah saya akan dipeluk atau dipukul, saya tidak pernah tahu bedanya” atau seorang yag bercerita sambil terisak-isak, “saya hanya menutup wajah saya dengan bantal dan menangis ketika ayah ingin berhubungan sex dengan saya???….. (Seamands: 1997)

Seringkali orang tua rohani memberitahu pada anak-anak yang terluka seperti itu bahwa satu-satunya yang salah dengan mereka adalah pikiran mereka atau bahkan mengatakan mereka harus berhenti hidup dalam daging.
Semua yang dilakukan hanya akan memperbesar rasa bersalah dan memperdalam keputusasaan mereka karena faktanya: apa yang didengar, digambarkan dan dirasakan oleh pendengar masih harus disaring. ROH KUDUS sendiri tidak menghindari kepribadian dengan mana seseorang menangkap sesuatu ( Anak-anak belajar dari hal yang kongkrit sampai pada yang abstrak, dari pengalaman yang sesungguhnya dengan hal-hal dan dengan orang-orang sampai pada pikiran dan konsep mengenai mereka. Mereka hanya lambat laun berpikir dalam ide-ide abstrak sementara mereka bertumbuh menjadi dewasa. Jadi konsep-konsep seperti kasih, penerimaan, iman dan keadilan didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang sebenarnya, terutama mereka yang paling berarti baginya. Gabungan konsep dan perasaan yang didasarkan pada hubungan merupakan fondasi bagi pengalaman dasar terhadap belaskasihan, pengampunan ALLAH dan kesaksian ROH KUDUS.)

Dan apabila penerima yang menangkap semua ini benar-benar telah rusak, maka kebenaran Alkitab juga akan menyimpang sehingga menghasilkan gambar yang rusak ttg ALLAH. Konsep yang menyimpang atau perasaan yang salah mengenai ALLAH akan membawa kepada berbagai macam masalah rohani. Anak-anak seperti ini membutuhkan kesembuhan batin yang dalam sebelum akhirnya anak-anak itu mampu membentuk kembali doktrin-doktrin mereka yang keliru dan mengerti dengan benar ayat-ayat dalam Alkitab.

Sebagai orangtua rohani jauh lebih baik untuk menolong mereka mengerti dan menemukan kesembuhan dari sumber yang sebenarnya dari dilema mereka daripada menekannya dengan menguraikan doktrin-doktrin iman yang penting, menegakkan standart-standart Alkitabiah untuk kehidupan, berbicara tentang dosa, kebenaran dan penghakiman, memanggil orang-orang pada pertobatan, keselamatan dan pengudusan.
TUHAN YESUS menyembuhkan seorang anak yang terbuka dan tulus yang berkata sambil mengangis “TUHAN, aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini (Markus 9: 24)

Kita sebagai orangtua rohani dapat berperan sebagai asisten sementara ROH KUDUS. Asisten, karena sasaran dari semua konseling adalah untuk menolong orang-orang menjadi cukup dewasa secara emosional dan rohani untuk berhubungan dengan ROH KUDUS, Konselor Agung. Sementara artinya ketergantungan kepada kita seharusnya tidak bersifat permanent, jika demikian maka konseling bukan lagi menjadi pemecah masalah tetapi menjadi bagian dari masalah.

Sepanjang sejarah, ALLAH telah menggunakan manusia sebagai asisten, tidak hanya untuk melaksanakan pekerjaanNYA, tetapi juga untuk “berdiri di tengah” sebagai pengantaraNYA yang menunjukkan kepada orang-orang, seperti apa karakter DIA yang sesungguhnya.

Bagi anak rohani yang rusak, ini adalah pertama kali dalam hidupnya mereka mengalami hubungan yang stabil, saling mempercayai dan benar-benar penuh kasih (menerima namun berhadapan muka). Jadi keberadaan kita merupakan awal dari kesembuhan. Hmm saat kita mendengarkan mereka harus selalu disertai dengan doa. Sementara kita mendengarkan apa yang dikomunikasikan kepada kita, pada tingkat yang lebih dalam kita harus menggunakan kepekaan rohani dengan terus berdoa dalam hati. Hmm ketika berhadapan dgn masalah-masalah dosa sex, pastikan bahwa kita telah menemukan masalah sesungguhnya yang perlu dihadapi dan disembuhkan. Begitu sering dosa sex terjalin erat dgn kepedihan hati dari daerah yang berbeda. Tidak akan terjadi kesembuhan sebelum memori ini ditemukan dan ditangani sebagaimana semestinya. kita perlu peka terhadap ketajaman ROH untuk menemukannnya.

Setelah dengan pertimbangan yang hati-hati dan sudah didoakan sungguh-sungguh, jangan takut untuk menaati pimpinanNYA. Bagian paling penting dalam penyembuhan memori adalah saat berdoa. Terburu-buru memasuki waktu doa tanpa benar-benar mengerti kebutuhan yang harus ditangani tidak akan membawa kepada kesembuhan yang sesungguhnya. Mempersiapkan waktu doa akan menolong membawa pada alam bawah sadar, baik gambaran maupun perasaan yang menyakitkan harus didorong keluar dari ingatan, untuk dilihat, didengar, dirasakan dan dimengerti untuk dibawa ke hadapan ALLAH untuk disembuhkan. Alkitab memiliki resep untuk pemulihan dan kesembuhan: kejujuran, keterbukaan, pertobatan dan pengakuan (I Yohanes 1: 5-10). Anak-anak yang terluka itu tidak dapat mengaku kepada ALLAH, apa yang mereka sendiri sendiri tidak akui.

Hmm meledaknya jumlah perceraian, pertambahan yang mengkhawatirkan dalam penyiksaan anak dan pasangan hidup, pelecehan sexual, kecanduan yang semakin meningkat terhadap minuman keras dan obat bius, hancurnya standart-stadart moral menghasilkan anak-anak yang terganggu dengan emosi-emosi yang rusak. Dan banyak dari emosi yang rusak ini telah dikubur dalam-dalam pada lapisan memori yang tidak akan memberikan respon terhadap kotbah-kotbah yang jauh, kotbah yang dilindungi oleh mimbar berlapis baja.

Hmm kita harus bersedia “mengotorkan” tangan kita untuk berhubungan dengan sengatan noda dari memori-memori yang kotor. Anak-anak yang terluka ini membutuhkan orang tua rohani yang memperhatikan dan dapat dipercaya yang dapat memimpinnya memasuki hadirat ALLAH. Injil seharusnya benar-benar menjadi kabar baik, berita yang luarbiasa mengenai persahabatan yang penuh pengertian dan persahabatan dari ALLAH. Anak-anak yang terluka ini layak mendapatkan penanganan yang paling lembut dan empatik BUKAN selalu berusaha mengubahnya menjadi yang seharusnya melalui tuntutan-tuntutan ayat-ayat Alkitab yang semakin menghakimi dan membebaninya, BUKAN dengan selalu memberikan jawaban-jawaban tanpa mendengar kebingungan dan kisah-kisahnya. TUHAN YESUS berbicara mengenai beberapa efek yang merusak dari beberapa tindakan terhadap anak-anak, kemudian menyatakan salah satu penghakimanNYA yang keras terhadap semua yang “menyesatkan anak-anak kecil” atau “menyebabkan mereka tersandung” (Matius 18: 6-7) sungguh “lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”.

Waktu saja tidak dapat menyembuhkan memori-memori yang begitu menekan dalam kehidupan seseorang, terutama pengalaman-pengalaman yang terjadi permulaan masa kecil dan remaja. Banyak orang hidup dengan ketegangan yang tidak terpecahkan disebabkan oleh memori yang menyakitkan selama bertahun-tahun, mana kala selama itu beban terus bertambah berat. Jika orang seperti ini sampai pada akhir dari daya tahannya dan mendapati energinya sudah habis maka ia akan menderita krisis emosional. Jika selanjutnya ia dilemahkan dengan keletihan secara fisik, goncangan traumatis dan kemudian jika beberapa pengalaman yang dialaminya berhubungan dengan kejadian masa lalu yang menyakitkan, maka memori yang tersembunyi, yang telah diusahakan begitu lama untuk dikubur, akan bangkit dan menjadi giat kembali.

Memori yang menyakitkan ini tidak dapat secara otomatis diperbaharui melalui pertobatan dan pertumbuhan kasih karunia. Sesungguhnya memori ini sering menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan kerohanian dan emosional. Dan sebelum orang seperti ini menerima kesembuhan dari memori tersebut, ia belum benar-benar menjadi dewasa. Tubuhnya dewasa dan pikirannya berkembang, tetapi pada satu bagian tertentu masih membeku. Ia tetap seorang anak laki-laki atau anak perempuan yang terkunci dalam kehidupan masa kecil.

Yang dibutuhkannya adalah doa untuk kesembuhan memori dari anak kecil atau remaja yang mengalami pengalaman tertentu yang membuatnya berhenti bertumbuh, pengalaman yang memenjarakan dia, membekukan dia pada satu tahapan pertumbuhannya. Semua memori ini perlu diserahkan kepada ALLAH dalam doa sehingga orang itu dapat dibebaskan dari rasa sakit dan tekanan.

Terinspirasi oleh : Kesembuhan Memori. David. A. Seamand.

Kebangkitan Kristus merupakan keunikan dan keistimewaan Kekristenan yang tidak dapat disejajarkan dengan agama dan kepercayaan mana pun. Karena itu, nampaknya ada kelompok yang mencoba menggugat ajaran tersebut dan ada juga yang menuntut pembuktian.Apakah kebangkitan Kristus perlu dibuktikan?
Sebelum seseorang membuktikannya, perlu kita perhatikan bahwa masalah penolakan kepada kebangkitan Yesus, bukanlah karena kekurangan bukti. Sesungguhnya, masalah utama bukan pada kurangnya informasi yang dimiliki untuk menerima kebangkitan tersebut, tetapi terletak kepada kurangnya kemampuan mengimani semua informasi yang ada. Ini adalah satu kenyataan yang tidak dapat disangkal, bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dari perspektif kebangkitan Yesus Kristus. Sebenarnya, apa yang dituliskan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, khususnya Matius, Markus, Lukas dan Yohanes merupakan bukti nyata dan konkrit, sesuai dengan fakta dan realita yang mereka alami sendiri. Fakta-fakta itu juga yang disodorkan oleh rasul Paulus dalam 1Kor.15, yaitu satu pasal yang sedemikian jelas dan gamblang menguraikan fakta kebangkitan Kristus serta implikasi dari kebangkitan tersebut. Namun apa yang terjadi? Ada orang yang tetap tidak mampu menerima fakta dan bukti tersebut. Sebaliknya, mereka mencoba membangun teori baru, sesuai dengan apa yang mereka ‘imani’ untuk melawan fakta kebangkitan tersebut. Itulah yang dicoba dilakukan oleh segelintir filsuf dan teolog radikal, seperti David Hume dan Gerd Ludemann. Ludemann, professor Perjanjian Baru dari Universitas Gottingen -yang pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume- menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb (What really happened to Jesus? A Historical Approach to the Resurrection, 134-5). Jadi, masalah kebangkitan, sekali lagi, adalah masalah iman atau kegagalan untuk percaya.Dasar yang kokohBerbeda dengan Gerd Ludemann tersebut di atas, banyak ahli yang menerima dan mensyukuri kebangkitan Yesus tersebut. Sebagai contoh adalah seorang teolog besar dan terkenal dari Inggris, N.T, Wright. Dalam bukunya setebal bantal itu, dia menegaskan bahwa kebangkitan Kristus yang bersifat tubuh merupakan pusat iman dan perilaku dari orang Kristen mula-mula. (The Resurrection of the Son of God, 685).Demikian juga, William Lane Crage pada kesempatan debat terbuka dengan Gerd Ludemann, tanggal 18-9-1997, di St Thomas More Society of Boston College, menegaskan bahwa laporan keempat Injil dapat dipercaya (Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus) . Bahkan, seorang non Kristen Yahudi -yang ahli dalam Perjanjian Baru- yaitu Pinchas Lapide dalam bukunya The Resurrection of Jesus: A Jewish Perspective telah menyatakan bahwa dia percaya bahwa Yesus dari Nasaret bangkit secara tubuh dari maut.Jika demikian halnya, apa makna kebangkitan tersebut bagi kita orang percaya? Apakah ada hubungannya dengan kita? Untuk itu, kita dapat membaca penegasan Yesus sendiri yang diucapkan sebelum kematian dan kebangkitanNya. “Karena Aku hidup, dan kamupun akan hidup” (Yoh.14:19b). Jadi, dari pernyataan Yesus tsb jelas sekali adanya hubungan yang erat antara kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang percaya. Sebagaimana rasul Paulus juga menegaskan bahwa Yesus menjadi yang pertama bangkit, “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya” (1Kor.15:23). Perlu kita perhatikan bahwa sekalipun di dalam agama-agama lain kita menemukan ajaran yang kelihatannya sama dengan Kekristenan, namun dalam hal kebangkitan, ada perbedaan yang sangat mendasar. Memang, agama lain juga mengajarkan tentang adanya kebangkitan orang mati. Artinya, agama lain juga mengajarkan adanya kehidupan setelah kematian. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah siapakah dari mereka yang telah bangkit? Siapakah dari pendiri-pendiri agama tsb yang telah bangkit? Jawabnya, tidak ada. Jika belum ada yang bangkit, lalu apa dasarnya umat dari agama-agama tsb mengimani dan berharap kepada kebangkitan setelah kematian? Bagaimana dengan kekristenan? Kebangkitan bukan sekedar ide, tetapi fakta dan realita. Kritus telah bangkit. Itulah sebabnya kita mengerti bahwa rasul Paulus menuliskan berita kebangkitan itu merupakan hal yan sangat penting, (1Kor.15:3-4), di mana hal itu menjadi dasar yang kokoh dan jaminan pasti bagi kebangkitan orang percaya (ay.12 dstnya). Itu menjadi kekuatan menjalani hari esok.Itulah yang dialami oleh Gary Habermas, seorang yang menerima gelar doktor dari Emmanuel College, Oxford dengan disertasi kebangkitan. Pada tahun 1995, Habermas sangat terpukul dan sedih akibat kepergian Debbie, istrinya yang meninggal akibat penyakit kanker. Tiga tahun kemudian, Habermas menulis: “Kehilangan istri saya adalah pengalaman paling menyakitkan yang pernah saya hadapi. Namun jika kebangkitan Kristus dapat menolong saya melewatinya, itu dapat menolong saya melewati apa saja. Itu bagus untuk tahun 30 Masehi, itu bagus untuk tahun 1995, itu bagus untuk tahun 1998, dan itu bagus untuk waktu-waktu seterusnya” (Lee Strobel: The Case for Christ, 327).Kiranya pengalaman Habermas itu juga menjadi pengalaman kita, sehingga segala macam kesulitan, tantangan, jalan buntu bahkan ketidakmungkinan yang kita hadapi, di dalam kuasa kebangkitanNya, kita sanggup menghadapinya. Bukankah Kebangkitan itu sendiri adalah ketidakmungkinan yang menjadi mungkin? (bersambung)

Mangapul Sagala, Staf Senior Perkantas Jakarta.
Pembicara pada KKR Paskah, hari Minggu 27.4.08 jam 16.00, di Istora Senayan.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.